Selamat Datang di Website MAN Kluet Utara Aceh Selatan. VISI ---> BELAJAR KERAS, BEKERJA KERAS DAN BERAMAL DENGAN IKHLAS --- MISI ---> 1. Menyiapkan Lulusan yang mampu menguasai Ilmu Pendidikan dan Teknologi, 2. Menyiapkan Lulusan yang mampu mandiri, berkarya sesuai dengan potensi dirinya, 3. Menyiapkan Lulusan Taat Beragama dan Berakhlakul karimah
  • Poster Kesiapan Ujian Nasional Oleh MAN Kluet Utara dengan Motto Ujian Jujur Kualitas Terukur.

  • Kepala Madrasah Bpk. Dailami Hasmar, S.Ag saat menerima tamu di Ruang Kepala Madrasah.

  • Siswa dan Siswi MAN Kluet Utara saat Ujian berlangsung.

  • Ruang Tata Usaha / Komputer MAN Kluet Utara.

New Post

Rss

Tampilkan postingan dengan label Artikel Guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Guru. Tampilkan semua postingan
Jumat, 18 September 2015
GURU REVOLUSIONER

GURU REVOLUSIONER

Oleh : Arif Luqman Nadhirin

Setiap orang pasti sepakat kalu seorang guru harus menjadi teladan bagi siswa dan masyarakat. Bukahkah guru itu digugu lan ditiru. Namun, apakah guru cukup menjadi teladan? Menurut penulis tidak. Mengapa? Karena guru juga harus sejati dan revolusioner. Artinya, yang perlu disoroti di sini juga semangat guru dalam mengemban tugas mulianya.

Secara implist, bisa disimpulkan ada “guru sejati” dan “guru aspal”. Guru sejati adalah meraka yang menjalankan tugasnya dengan penuh semagat keikhlasan dan semangat revolusioner mendidik anak bangsa. Sedangkan guru aspal adalah mereka yang berorientasi pada “rupiah” belaka, mengajar tanpa mendidik, memenuhi presensi tanpa menjadi motivator sejati bagi siswa di sekolah.

era global seperti ini memang menuntut guru untuk menjadi pragmatis. Artinya, guru butuh kesejahteraan dan kemakmuran. Dan hal itu salah satunya diperoleh dari tugasnya sebagai guru di lembaga pendidikan. Di sisi lain munculnya kebijakan sertifikasi semakin menjadikan guru salah niat dalam mengajar. Padahal kebijakan tersebut seharusnya menjadikan guru lebih kreatif, inivatif, dan profesional dalam mengemban misi mencerdaskan anak bangsa, bukan sekedar mengejar rupiah. Oleh karena itu, hal ini harus segera diluruskan.

Lalu bagai mana caranya? Caranya adalah dimulai dari mencegah munculnya guru aspal. Karena apa artinya rupiah, jika guru tidak biasa menjalankan tugas sucinya. Maka sebagai insan pendidikan, hal itu harus disikapi guru dengan arif. Salah satunya adalah dengan mencegah munculnya guru aspal dengan beberapa solusi dan trobosan yang efektif. Setidaknya ada beberapa cara, antara lain:

Pertama, memperketat penerimaan guru, baik sekolah berstatus swasta maupun negeri, PNS atau GTT. Mengapa demikian? Karena, selama ini masih banyak orang masuk sekolah dan menjadi guru hanya “berbasis KKN”. Artinya, asalkan punya kenalan pihak sekolah/dinas, asalkan punya uang ratusan juta rupiah, maka akses masuk jadi guru juga mudah.

Kedua, mempertegas aturan dan kiteria atau syarat menjadi guru. Selama ini, penerimaan guru tidak ketat dan kriterianya tidak jelas. Kita ketahui bahwa setidaknya seorang guru harus memiliki empat kompetensi pendidikan, yaitu pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.

Ketiga, guru harus linier, sesuai jurusannya. Artinya, jika guru itu lulusan Pendidikan Agama Islam, maka yang diajar gura mata pelajran agama Islam pula. Masih sering kita jumpai fakta di lapangan, guru mengajar tidak sesuai dengan bidangnya. Misalnya, lulusan Pendidikan Bahasa Indonesia mengajar materi bahasa Inggris, lulusan Pendidikan Biologi mengajar materi Ekonomi, dan sebagainya.

Yang jelas dan utama adalah guru harus memenuhi kualifikasi akademik dan kriteria plus-plus. Artinya, selama ini banyak guru yang pandai secara akademik, namun tidak mampu menjadi pendidik yang mampu memberikan motivasi dan semangat bagi siswanya. Inilah yang disebut dengan “kemampuan puls-plus” yang jarang dimiliki oleh guru. Bahkan banyak guru killer yang ditakuti siswanya, guru yang selalu memakai metode CBSA (Catat Buku Sampai Abis), guru yang mengajar ala kadarnya, banhkan guru yang centil/gatal kepada sisiwinya, dan masih banyak contoh lainnya. Inilah yang perlu dibenahi, jangan sampai guru aspal merusak pendidikan di negara ini.

Guru Revolusioner
Apakah cukup dengan itu, guru menjadi penentu pendidkan di negara ini? Tentu tidak, yang tak kalah urgen adalah perlunya guru revolusioner yang mengajar penuh dengan motivasi tinggi dengan semangat memajukan pendidikan Indonesia. Menurut Dian Marta Wijayanti, guru revolusioner memiliki beberapa ciri.

Pertama, dia selalu mengajar penuh rasa ikhlas tanpa pamrih. Artinya, dia tetap butuh kesejahteraan, tetapi bukan itu tujuannya. Mengapa? Karena menjadi guru bukanlah tujuan, karena posisi guru hanyalah alat untuk berbuat baik lebih banyak lagi dalam rangka memajukan pendidikan Indonesia yang masih jauh dari harapan.

Kedua, memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi. Artinya, bagai mana mungkin siswa akan bersikp disiplin kalau gurunya tidak.

Ketiga, selalu menjadi dambaan siswa dan memberikan motivasi kepada siswa agar semangat dalam mencari ilmu, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Keempat, mampu mengajarkan kepada siswa, bahwa hidup tidak sekedar menjadi manusia berilmu, akan tetapi juga beriman dan beramal.

Kelima, selalu mengajarkan kepada siswa bahwa hidup bukan sekedar “mejadi apa” (to be), tapi yang lebih penting adalah “berbuat apa” (to do).

Inilah yang harus ditanamkan kepada siswa. Dengan demikian, wajah pendidikan kita akan semakin berseri-seri, jika para gurunya sejati dan revolusioner, bukan aspal.

Maka dari itu jadilah guru sejati dan revolusioner, bukan aspal. Bagaimana menurut Anda?

Keterangan:
Tulisan ini terinspirasi dari Artikel berjudul “Guru Revolusioner”, karya Dian Marta Wijayanti (Suara Merdeka edisi 19/10/2013)

Kendal, 19 Oktober 2013 M
Jumat, 03 April 2015
PERAN GURU DALAM PENERAPAN  NILAI-NILAI PANCASILA Oleh: HARIZAL.AD.S.Pd

PERAN GURU DALAM PENERAPAN NILAI-NILAI PANCASILA Oleh: HARIZAL.AD.S.Pd

Dewasa ini berbagai kasus yang mengejutkan semua pihak, bahwa ada yang tidak beres di dunia pendidikan secara keseluruhan,dari berbagai kasus yang terjadi misalnya korupsi yang merajalela di negeri ini, penyalah gunaan obat terlarang, pergaulan bebas, tawuran pelajar, tawuran antar kelompok masyarakat, yang sangat meresahkan kehidupan masyarakat, dan dapat menjadikan bangsa indonesia terpuruk dalam berbagai sisi kehidupan.

Banyak pihak menuding hal ini terjadi karena kegagalan sistem pendidikan benarkah itu?

Jawaban nya mungkin benar, mungkin tidak, tergantung dari mana sudut pandang menilai nya, timbul pertanyaan kembali di benak pikiran kita semua, apa yang kurang beres dengan sistem pendidikan kita.

 Arifin (2013), dalam sebuah tulisan artikel berjudul Kondisi Kekinian Kita dan Makna Pendidikan, menegaskan bahwa “Pendidikan merupakan sebuah proses yang membantu menumbuhkan, mengembangkan, mendewasakan, membuat yang tidak tertata atau liar menjadi semakin tertata”. Jadi sangat jelas, bahwa seharusnya pendidikan ini harus memiliki sistem yang jelas, tertata rapi sehingga tidak menghilangkan nilai-nilai dasar pancasila sebagai pedoman bagi konsep pendidikan itu sendiri.

 Penulis menilai sistem pendidikan yang selama ini telah jauh keluar dari nilai-nilai dan etika pendidikan itu sendiri. Para pakar pendidikan menyatakan bahwa sistem pendidikan sekarang ini telah , menyimpang dari sisi amanat nya, yaitu untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdas kan kehidupan berbangsa dan bernegara, realitanya dunia pendidikan sekarang ini tidak berada lagi pada koridor platformnya sebagai upaya sadar dan terencana untuk mewujudkan susana belajar yang aktif, beroreantasi pada nilai dan etika pendidikan itu sendiri, hemat penulis sudah saat nya bagi insan pendidik, terutama pemangku jabatan dosen, guru-guru yang pada intinya pemegang jabatan profesi sebagai guru dan juga masyarakat yang peduli pada dunia pendidikan, untuk mengembalikan pendidikan itu kepada habitatnya sebagai infrastruktur bagi pembentukan nilai-nilai pancasila sebagai pegembangan kepribadian secara utuh.

Disinilah terciptanya peran guru untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas karena seorang guru bukan hanya berperan sebagai pengajar akan tetapi sebagai pembimbing, sumber keteladan dan penasehat, di sisi lain juga harus di perhatikan dari seorang guru , jumlah, mutu pendidikan dan kesejahteraan guru itu sendiri, menurut penulis perlu di garis bawahi kenerja pendidikan yang berkualitas dan efektif hanya mungkin terwujud apabila para guru mendapatkan peluang besar untuk memberdayakan dirinya dalam nuasa pradigma pendidikan yang menjunjung tingi nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pancasila tersebeut, bukan hanya dalam pradigma birokratis yang kaku, hak-hak guru sebagai insan pendidikan dan pemangku profesi pendidikan , angota masyarakat dan warga negara, perlu mendapatkan priotas dalam reformasi pendidikan . 

Guru juga harus mempunyai peran penting dan mendapatkan posisi yang sentral dalam dunia pendidikan, artiannya pemberdayaan secara profesioanal sebagai insan pendidik, lebih di perankan sebagai ujung tombak pertama di dunia pendidikan, agar terciptanya pendidikan yang berkulias dan menjunjung tingi rasa kemanusian, di samping itu juga menjadikan guru sebagai mitra kerja bukan sebagai bawahan.

Sekian....

referensi.bacaan buku.dan blogspot.
Penulis adalah. Alumni Fkip PPkn Unsyiah 2013
Yang sekarang mengajar di MAN KLUET UTARA
Aceh Selatan
email : harizalad@yahoo.com


Rabu, 25 Maret 2015
Ulama Yang Ihsan

Ulama Yang Ihsan

Jikalau memang mereka dakwah kepada tauhid, memberantas tahayul, bid’ah, khurafat dan syirik maka mereka pastilah menjadi ulama yang ihsan atau ulama yang berakhlakul  karimah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
سيكون في أمتي اختلاف وفرقة ، قوم يحسنون القيل ويسيئون الفعل
“Akan ada perselisihan dan perseteruan pada umatku, suatu kaum yang memperbagus ucapan dan memperjelek perbuatan  (akhlak yang buruk) “.

يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِى شَىْءٍ
” Mereka mengajak pada kitab Allah tetapi justru mereka tidak mendapat bagian sedikitpun dari Al-Quran “. (Sunan Abu Daud : 4765)

Urutannya adalah ilmu -> amal -> akhlak
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh“

Ilmu harus dikawal hidayah. Tanpa hidayah, seseorang yang berilmu menjadi sombong dan semakin jauh dari Allah ta’ala. Sebaliknya seorang ahli ilmu (ulama) yang mendapat hidayah (karunia hikmah) maka hubungannya dengan Allah Azza wa Jalla semakin dekat sehingga meraih maqom (derajat) disisiNya dan dibuktikan dengan dapat menyaksikanNya dengan hati (ain bashiroh).

Sebagaimana diperibahasakan oleh orang tua kita dahulu bagaikan padi semakin berisi semakin merunduk, semakin berilmu dan beramal maka semakin tawadhu, rendah hati dan tidak sombong.   

Tujuan beragama adalah menjadi muslim yang ihsan atau muslim yang berakhlakul karimah
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad)

Firman Allah ta’ala yang artinya,
“Sungguh dalam dirimu terdapat akhlak yang mulia”. (QS Al-Qalam:4)
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:21)

Ulama yang dekat dengan Allah adalah ulama yang ihsan atau ulama yang berakhlakul karimah.

Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah)kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya (bermakrifat), maka jika kamu tidak melihat-Nya (bermakrifat) maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR Muslim 11)

Firman Allah ta’ala yang artinya “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS Al Faathir [35]:28)

Muslim yang takut kepada Allah karena mereka selalu yakin diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau mereka yang selalu menyaksikan Allah dengan hatinya (ain bashiroh), setiap akan bersikap atau berbuat sehingga mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar sehingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah atau muslim yang sholeh atau muslim yang ihsan.

Muslim yang memandang Allah ta’ala dengan hati (ain bashiroh) atau muslim yang bermakrifat adalah muslim yang selalu meyakini kehadiranNya, selalu sadar dan ingat kepadaNya.

Imam Qusyairi mengatakan “Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)”

Ulama yang ihsan atau ulama yang berakhlakul karimah adalah ulama telah meraih maqom (derajat) disisi Nya sehingga terbukti dapat menyaksikan Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh) dan akan berkumpul dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
Firman Allah ta’ala yang artinya,

”…Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur:21)

“Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” (QS Shaad [38]:46-47)

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu” (QS Al Hujuraat [49]:13)

“Tunjukilah kami jalan yang lurus , (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka” (QS Al Fatihah [1]:6-7)

“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya .” (QS An Nisaa [4]: 69)

Sayyidina Umar ra menasehatkan “Yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah bangga terhadap pendapatnya sendiri. Ketahuilah orang yang mengakui sebagai orang cerdas sebenarnya adalah orang yang sangat bodoh. Orang yang mengatakan bahwa dirinya pasti masuk surga, dia akan masuk neraka“

Sumber : islamnet.web.id

Copyright © 2012 MAN All Right Reserved